Pendaftaran Peserta dan Pemesanan Kaos Jamnas Wolu Seru

Dear diary…

Beberapa waktu yang lalu server POL sedang down dan sekarang dalam keadaan maintenis.

Tentunya hatiku sangat bingung. Apalagi terkait event yang akan berlangsung sebentar lagi.

Sedikit putar-putar otak, akhirnya ketemulah dengan google form. Aplikasi dari google yang kapan hari daku buat untuk mendata penduduk RW, akhirnya daku pakai juga untuk mendata peserta dan pemesan kaos Jamnas Wolu Seru.

Bagi rekan-rekan yang ingin mendaftar Jamnas:

Bagi rekan-rekan yang ingin memesan kaos Jamnas:

Atau bisa diklik di url ini untuk pendaftaran Jamnas dan ini untuk pemesanan kaos Jamnas.

See you at Jamnas Wolu Seru!!!

Advertisements

Jika Mengaku Bangsa Indonesia, Sebaiknya Amalkan!

Dear diary…

Miris sekali daku melihat perilaku-perilaku baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Meski banyak yang mengaku bangsa Indonesia, namun perilakunya tidak mencerminkan Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia.

Apakah ini efek dari dihilangkannya Pancasila dari kurikulum pendidikan? Ataukah banyaknya budaya asing yang masuk ke Indonesia sehingga budaya asli Indonesia dilupakan?

Banyak yang membagikan link-link yang membandingkan ajaran ini-ajaran itu. Ada pula yang mempostingkan anti ajaran ini-anti ajaran itu. Dan itu semua dibagikan di media sosial online.

Dalam postingan kali ini, daku mengajak para pembaca sekalian. Untuk kilas balik dalam diri kita masing-masing. Sudahkah kita menjadi bangsa Indonesia yang baik? Bangsa Indonesia yang memiliki Pancasila

Sementara kesampingkan ego masing-masing, sementara pikirkan bahwa kita sebagai manusia yang notabene makhluk sosial pasti membutuhkan orang lain, pasti membutuhkan bantuan orang lain. Dan hal itu tidak mempedulikan dari ras mana, suku mana, agama apa dan bahkan golongan mana.

Pancasila sebagai dasar negara Indonesia sebenarnya sudah jelas dalam mengatur kehidupan kita untuk berbangsa dan bernegara. Memang Pancasila mengalami perubahan dalam butir-butir pengamalannya, dari 36 butir menjadi 45 butir. Namun kesemuanya itu adalah demi kita sendiri, demi persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa Indonesia yang nantinya tidak mudah terpecah-belah, terprovokasi bahkan terjerumus dalam lingkaran terorisme.

Mari kita simak perubahan dari 36 butir pengamalan Pancasila menjadi 45 butir pengamalan.

36 butir

45 butir

Ketuhanan Yang Maha Esa

  1. Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  2. Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.
  3. Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
  4. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.
  1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
  6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
  7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Kemanusiaan yang adil dan beradab

  1. Mengakui persamaan derajat persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia.
  2. Saling mencintai sesama manusia.
  3. Mengembangkan sikap tenggang rasa.
  4. Tidak semena-mena terhadap orang lain.
  5. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
  6. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  7. Berani membela kebenaran dan keadilan.
  8. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu dikembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
  1. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
  3. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
  4. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
  5. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
  6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
  7. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  8. Berani membela kebenaran dan keadilan.
  9. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
  10. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

Persatuan Indonesia

  1. Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
  2. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
  3. Cinta Tanah Air dan Bangsa.
  4. Bangga sebagai Bangsa Indonesia dan ber-Tanah Air Indonesia.
  5. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.
  1. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  2. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
  3. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
  4. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
  5. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
  6. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
  7. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaran / perwakilan

  1. Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.
  2. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
  3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan.
  5. Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil musyawarah.
  6. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
  7. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
  1. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
  2. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
  3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
  5. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
  6. Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
  7. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  8. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
  9. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
  10. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

  1. Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong-royong.
  2. Bersikap adil.
  3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  4. Menghormati hak-hak orang lain.
  5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain.
  6. Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain.
  7. Tidak bersifat boros.
  8. Tidak bergaya hidup mewah.
  9. Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.
  10. Suka bekerja keras.
  11. Menghargai hasil karya orang lain.
  12. Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.
  1. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
  2. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
  3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  4. Menghormati hak orang lain.
  5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
  6. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
  7. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
  8. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
  9. Suka bekerja keras.
  10. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
  11. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Dari perubahan-perubahan tersebut di atas, sudahkah kita mengamalkan semuanya? Sudahkah kita mengamalkan apa yang menjadi hak dan kewajiban kita sebagai bangsa Indonesia?

Jika anda menjawab tidak perlu, dan tidak usah semua dilakukan, daku yakin dengan pasti bahwa anda bukan bangsa Indonesia. Dan lebih baik anda segera berkemas meninggalkan negara Indonesia. Karena negara ini sebaiknya diisi dengan orang-orang yang mau dan bisa berperilaku sesuai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Harapku Untukmu, Ibu…

Ibunda
Ibunda

Beliaulah yang menghalangi cita-citaku…

Beliaulah yang memaksaku mematuhi segala peraturan…

Beliau selalu melarangku untuk bermain…

Beliau tidak pernah mengerti hobby yang aku pilih…

Beliau tidak pernah mengijinkanku untuk ikut serta dalam organisasi apapun…

Beliau tidak pernah bangga akan apa yang pernah aku lakukan…

Beliau selalu mencemooh kegiatanku di luar belajar…

Beliau selalu mengejek tulisan dan coretan yang kubuat…

Beliau pulalah yang membuatku pergi dari rumah di saat aku masih kuliah…

 

Tapi…

Di atas itu semua…

Beliau adalah ibuku…

Beliaulah yang melahirkanku…

Beliau pula yang mendidikku dengan segala adat ke-Jawa-an yang beliau hormati…

Beliau tetap menerimaku pulang ke rumah setelah aku pergi dari rumah…

Beliau bangga menceritakan bahwa anaknya, aku, bekerja sebagai tukang parkir di kampus saat kuliah…

Beliau pula yang menangis saat aku terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit…

Beliaulah yang menjadi jembatan antara aku dan Sang Pencipta…

Beliau selalu mencoba mengerti apa yang aku lakukan…

 

Tanpa beliau, mungkin saat ini aku tidak akan pernah bisa bertemu dengan semua orang yang aku hormati, sayangi dan cintai…

Ibu, maafkan aku jika belum bisa berbhakti kepadamu…

Ibu, maafkan aku yang tidak pernah bisa menjadi seperti yang Ibu inginkan…

Ibu, cepatlah sembuh…

Today #DELSS

image

In your eyes I can see the miss..
In your smiles I can fell the peace..
In your laughs I can hear the tears..
In your hand I can touch the kiss..

Mourning..
Grieving..
Frowning..
I can see all in your talking..

Just a hold in my arms so tight..
Just a close of my shady sight..
Just accompany a while by your side..
Just to let you know I’ll keep your love inside..

Tuhan Bukanlah Segalanya

Sekeras apapun kita berdoa meski orang lain mendengar, namun Tuhan tidak mendengar…
Sebesar apapun usaha kita meski orang lain melihat, namun Tuhan tidak melihat…
Sebanyak apapun kita mengeluh meski orang lain bisa mengerti, namun Tuhan tidak mengerti…
Sekencang apapun kita menangis meski orang lain peduli, namun Tuhan tidak peduli…
Seberapa banyak kita memohon maaf meski orang lain bisa memaafkan, namun Tuhan bukan pemaaf…
Seberapa sering kita meminta meski orang lain bisa memberi, namun Tuhan tidak memberi…

Karena Tuhan bukanlah segalanya…

Namun dari semua hal yang telah tertulis di atas…

Selirih apapun kita berdoa meski orang lain tidak mendengar, namun Tuhan Maha Mendengar…
Sekecil apapun usaha kita meski orang lain tidak melihat, namun Tuhan Maha Melihat…
Sekecil apapun kita mengeluh meski orang lain tidak bisa mengerti, namun Tuhan Maha Mengerti…
Sepelan apapun kita menangis meski orang lain tidak peduli, namun Tuhan Maha Peduli…
Sesedikit apapun kita memohon maaf meski orang lain tidak bisa memaafkan, namun Tuhan Maha Pemaaf…
Seberapa jarang kita meminta meski orang lain tidak bisa memberi, namun Tuhan Maha Memberi…

Tuhan memang bukan segalanya, namun Tuhan Maha Segalanya…

—————————-

Semoga dengan membaca tulisan ini, kita bisa menjaga diri kita dari pikiran-pikiran buruk yang diarahkan pada kita, dengan tidak menunjukkan pada orang lain apa yang kita doakan, apa yang kita keluhkan, apa yang kita inginkan. Ibadah bukan untuk ditunjukkan pada orang lain. Berusaha berubah menjadi lebih baik bukan untuk disiarkan pada orang lain. Karena Tuhan Maha Segalanya. Semoga kita semua selalu dalam lindungan dan limpahan rahmatNya. Aamiin… 🙂